Well, ngapain sih judul postingan kali ini nyuruh-nyuruh kenalan sama Si Mr. Kelemahan? Plisss deh… gue kan udah punya banyak kenalan hasil blogwalking getoh! (Kata Si Alay).
Hmmm… kawan, kenalan yang saya maksud bukan berarti say hello, jabat tangan, muka senyum lalu berkata, “Hai, namaku Anu”. Lagian Si ‘kelemahan’ itu bukan manusia (yang tangannya bisa dijabat). Tapi dia bisa kita identifikasi, kawan. Kelemahan itu juga bukan berada di luar diri kita, melainkan ada dalam diri kita.
Mungkin, di antara Narablog ada yang mempunyai target, kenginan, dan impian-impian tertentu. Dari yang kecil hingga yang besar. Dari yang sederhana hingga yang tampak rumit untuk diraih. Dari yang rendah hingga yang tinggi menjulang.
Masalahnya adalah ketika kita memiliki impian (keinginan) yang melampaui batas kemampuan kita. So what? Kita kan nggak tahu tuh batas kemampuan kita dimana. Daripada sibuk memikirkan dimana letak ‘perbatasan’ itu, lebih baik fokus sama tujuan. Sebagian ada yang beranggapan seperti itu. Sepintas pernyataan tersebut seperti mengacuhkan kelemahan yang ada pada diri sendiri. Tak peduli apa pun, kita tetap menginginkan hal (yang kita inginkan) itu segera terjadi. Sebentar dulu. Apakah batas kemampuan dan kelemahan itu adalah sesuatu yang sama? Baiklah Narablog yang saya sayangi. Saya akan membahas keduanya belakangan. Continue Reading

















